Uncategorized

Metode Vaksinasi Tanpa Jarum Suntik

Metode Vaksinasi Tanpa Jarum Suntik

Metode Vaksinasi Tanpa Jarum Suntik Vaksin merupakan salah satu cara utama untuk mencegah berbagai macam penyakit. Namun, meskipun sudah mengetahui pentingnya vaksin, masih ada orang yang menolak untuk mendapatkan vaksin.

Salah satu alasannya cukup sederhana, mereka takut dengan jarum suntik. Jadi, sebagai solusi untuk masalah ini, para ilmuwan telah berusaha mengembangkan beberapa metode vaksinasi lain yang tidak memerlukan jarum suntik.

Inilah beberapa metode baru yang sudah di setujui dan yang akan datang untuk mendapatkan vaksinasi tanpa memerlukan penggunaan jarum suntik. pelangi99_lounge

Di semprotkan di hidung

Metode Vaksinasi Tanpa Jarum Suntik

Metode Vaksinasi Tanpa Jarum Suntik FluMist merupakan vaksin flu yang di berikan dengan di semprotkan ke hidung dan telah di gunakan selama bertahun-tahun. Salah satu perbedaan besar dari vaksin ini adalah harus menggunakan virus flu hidup yang dilemahkan, tidak seperti suntikan flu standar.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan pemberian vaksin flu ini melalui hidung pada individu sehat yang tidak hamil dan berusia 2 tahun hingga 49 tahun. Individu dengan kondisi medis tertentu tidak boleh menerima vaksin flu semprot hidung, kecuali dengan izin dokter. Pelangi99

Di injeksikan ke kulit

Metode Vaksinasi Tanpa Jarum Suntik

Umumnya, vaksin di suntikkan ke otot menggunakan jarum. Namun, ada juga vaksin yang hanya perlu di injeksikan ke kulit sehingga jarum yang di gunakan juga sangat pendek.

Misalnya, di jelaskan dalam laman Popular Science, vaksin Fluzone Intradermal menggunakan microneedle kecil yang jauh lebih tipis dan pendek daripada jarum suntik normal karena hanya perlu menyuntikkan vaksin sejauh kulit. Suntikan ini juga membutuhkan lebih sedikit vaksin daripada jenis vaksin tradisional. Pelangi99

Microneedle-patch

Para peneliti di Georgia Tech dan Emory University mengembangkan metode vaksinasi dengan memanfaatkan microneedle-patch tanpa rasa sakit yang di tekan ke kulit untuk melepaskan vaksin. Tim peneliti menemukan bahwa patch logam bekerja untuk vaksin flu pada tikus.

Versi lain bahkan menggunakan polymer microneedle yang larut ke dalam tubuh. Metode pemberian vaksin dengan microneedle-patch juga sedang di kembangkan oleh perusahaan farmasi lainnya. Pelangi99

Strip mulut

Pada 2008, Aridis Pharmaceuticals dan Johns Hopkins University bekerja sama mengerjakan proyek vaksinasi yang di berikan lewat mulut. Vaksin ini di berikan melalui strip yang di taruh di mulut, kemudian akan larut dengan sendirinya. Metode vaksinasi ini di rancang untuk vaksinasi rotavirus pada bayi.

Strip ini memiliki lapisan tipis yang cepat larut. Namun, strip ini juga memiliki cangkang yang melindungi virus saat virus bergerak melalui asam lambung ke usus kecil. Pelangi99

Gigitan nyamuk

Saat di gigit nyamuk, sering kali kita tidak menyadarinya. Nah, para peneliti mencoba menggunakan konsep itu untuk menerapkannya pada vaksin. Di jelaskan dalam American Association for the Advancement of Science, pada 2010, sekelompok ahli genetika Jepang mengembangkan nyamuk yang menyebarkan vaksin.

Di sini, peneliti menempelkan SP15, kandidat vaksin untuk parasit leishmaniasis sehingga nyamuk menghasilkan SP15 dalam air liur mereka. Saat nyamuk menggigit tikus, tikus ini mengembangkan antibodi terhadap SP15. Sayangnya, belum jelas apakah ide memanfaatkan nyamuk sebagai vaksinator terbang mungkin untuk diwujudkan.

Menarik sekali, bukan? Melalui metode vaksin ini, orang-orang yang takut dengan jarum suntik tidak akan takut lagi untuk divaksin. Kalau menurut kamu, metode mana yang paling menarik? Jelaskan alasannya di kolom komentar, ya. Pelangi99

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *