DEWASA18++ – Istriku memang sengaja tidak membangunkan aku karena tadi malam aku pulang jam 4 pagi sampai rumah. Karena memang pekerjaanku sebagai auditor selalu dikejar target laporan, beruntung dalam teamku bekerja ada satu wanita yang bebas dengan segala sesuatu, Tamu Cantik di Saat Rumah Sunyi
Sebut saja Kiki dialah yang semalam memberikan service kepadaku untuk mengurangi keteganganku dalam bekerja, menurut dia bers*tubuh dengan orang lain bukan hal tabu lagi buat dia karena dia tidak mempermasalahkan jika suaminya juga berkencan dengan wanita lain, yang penting dalam prinsip dia adalah tidak lihat langsung saat kejadian tersebut.
Tamu Cantik di

Aku yang masih enak dikasur masih teringat dengan kejadian semalam aku tersenyum bahagia, sebetulnya saya bisa pulang awal jam 10 malam karena memang saat itu aku dan Kiki sedang h**y hrnynya jadi kita bisa 3 ronde sampai akhirnya pagi menyambut kita. Tamu Cantik di
Kurebahkan tubuhku di sofa ruang tengah, setelah memutar DVD *. Sengaja kusetel, biar hasrtku cepet tuntas. Setelah kubuka celanaku, aku sekarang hanya pakai kaos, dan tidak pakai celana. Pelan-pelan kuurut dan kukck tongk*lku.
Tampak dari ujung lubang tngkolku melelehkan cairan bening, tanda bahwa brahiku sudah memuncak tinggi. Aku pun teringat Ririn, sahabat istriku. Kebetulan Ririn berasal dari suku Chinese. Dia adalah sahabat istriku sejak dari SMP hingga lulus kuliah, dan sering juga main kerumahku. Kadang sendiri, kadang bersama keluarganya.
Ya, aku memang sering berfntasi sedang menytubuh* Ririn. Tubuhnya mungil, setinggi Kiki, tapi lebih gendut. Yang kukagumi adalah kulitnya yang sangat-sangat-sangat putih mulus, seperti warna patung lilin. Dan panttnya yang membulat indah, sering membuatku ngacng kalo dia berkunjung.
Aku hanya bisa membayangkan seandainya tubuh mulus Ririn bisa kujmah, pasti nikmat sekali. Fantsiku ini ternyata membuat tngkolku makin keras, merah padam dan cairan bening itu mengalir lagi dengan deras. Ah Ririn…seandainya aku bis a menyntuhmu..dan kamu mau ngockin tngkolku..begitu pikiranku saat itu.
Lagi enak-enak ngock sambil nonton bokp dan membayangkan Ririn, terdengar suara langkah sepatu dan seseorang memanggil-manggil istriku.
“Ndah…Indah…aku dateng,” seru suara itu… Tamu Cantik di

Oh my gosh…itu suara Ririn mau ngapain dia kesini, pikirku. Kapan masuknya, kok gak kedengaran? Ririn memang tidak pernah mengetuk pintu kalau ke rumahku, karena keluarga kami sudah sangat akrab dengan dia dan keluarganya. Belum sempat aku berpikir dan bertindak untuk menyelamatkan diri, tau-tau Ririn udah nongol di ruang tengah, dan
“AAAHHH…ANDREEEEW…!!!!,”jeritnya. “Kamu lagi ngapain?”
“Aku…eh…anu…aku….ee…lagi…ini…,”aku tak bisa menjawa pertanyaannya. Gugup. Panik. Sal-ting. Semua bercampur jadi satu.
Orang yang selama ini hanya ada dalam fantsiku, tiba-tiba muncul dihadapanku dan straight, langsung melihatku dalam keadaan telnjng, gak pake celana, Cuma kaos aja. Ngacng pula.
“Kamu dateng ok gak ngabarin dulu sih?” aku protes.
“Udah, sana, pake celana dulu!” Pagi-pagi telnjng, nonton ** sendirian,lagi ngapain sih?”ucapnya sambil duduk di kursi didepanku.
“Yee…namanya juga lagi h**y…ya udah mending coli sambil nonton **. Lagian anak-anak sama mamanya lagi pergi ke sekolah. Ya udah, self service,”sahutku.
“Udah, Ndrew. Sana pake celana dulu. Kamu gak risih apa?”
“Ah, kepalang tanggung kamu dah liat? Ngapain juga dtitutupin? Telat donk,”kilahku.
“Dasar kamu ya. Ya, udah deh, aku pamit dulu. Salam aja buat istrimu. Sana, terusin lagi.” Ririn beranjak dari duduknya, dan pamit pulang.
Buru-buru aku mencegahnya. “Rin, ntar dulu lah…,”pintaku.
“Apaan sih, orang aku mau ngajak Kiki jalan, dia nggak ada ya udah, aku mau jalan sendiri,”sahutnya.
“Bentar deh Rin. Tolongin aku, gak lama kok, paling sepuluh menit,”aku berusaha merayunya.
“Gla kamu ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”Ririn protes sambil melotot. “Kamu jangan macem-macem deh, Ndrew. Gak mungkin donk aku lakukan itu,”sergahnya. “Rin,”sahutku tenang. “Aku gak minta kamu untuk melakukan hal itu. Enggak. Aku Cuma minta tolong, kamu duduk didepanku, sambil liatin aku coli.” “Gimana?”
Ririn tidak menjawab. Matanya menatapku tajam.Sejurus kemudian..
“Ok, Rin. Aku janji gak ndeketin apalagi menyentuh kamu. Tapi, sebelum itu, kamu juga buka bajumu dong…pake ** sama ** aja deh, gak usah telnjng. Kan kamu dah liat punyaku, please?” aku merayunya dengan sedikit memelas sekaligus khawatir.
“Hm…fine deh. Aku bantuin deh…tapi bener ya, aku masih pake ** dan **ku dan kamu gak nyentuh aku ya. Janji lho,”katanya.
“Tapi, tunggu. Aku mau tanya, kok kamu berani banget minta tolong begitu ke aku?”
“Yaaa…aku berani-beraniin…toh aku gak nyentuh kamu, Cuma liat doang.
Lagian, kamu dah liat punyaku? Trus, aku lagi col*i sambil liat **…lha ada kamu, kenapa gak minta tolong aja, liat yang asli?”kilahku.
“Dasar kamu. Ya udah deh, aku buka baju di kamar dulu.”
“Gak usah, disini aja,”sahutku.
Perlahan, dibukanya kemejanya…dan…ah pa itu menyembul keluar. pa yang terbungkus ** s*xy berwarna merah…menambah kontras warna kulitnya yang sangat putih dan mulus. Aku menelan ludah karena hanya bisa membayangkan seperti apa isi ** merah itu.
Setelah itu, diturunkannya zip celana jeansnya, dan dibukanya kancing celananya. Perlahan, diturunkannya jeansnya…sedikit ada keraguan di wajahnya. Tapi akhirnya, celana itu terlepas dari kaki yang dibungkusnya. Wow…aku terbelalak melihatnya. Tamu Cantik di
Pha itu sangat putih sekali. Lebih putih dari yang pernah aku bayangkan. Tak ada cacat, tak ada noda. Selngkngannya masih terbungkus celna dalam mini berbahan satin, sewarna dengan **nya. Sepertinya, itu adalah satu set ** dan **.
“Nih, aku u dah buka baju. Dah, kamu terusin lagi col*nya. Aku duduk ya.”
Ririn segera duduk, dan hendak menyilangkan kakinya. Buru-buru aku cegah.
“Duduknya jangan gitu dong…”
“Ih, kamu tuh ya…macem-macem banget. Emang aku musti gimana?”protes Ririn. “Nngging, gitu?” “Ya kalo kamu mau nngging, bagus banget,”sahutku.
“Sori ye…emang gue apaan,”cibirnya.

“Kamu duduk biasa aja, tapi kakimu di buka dikit, jadi aku bisa liat celna dalam sama selngknganmu. Toh veggy kamu gak keliatan?”usulku. “Iya…iya…ni anak rewel banget ya. Mau coli aja pake minta macem-macem,”Ririn masih saja protes dengan permintaanku.
“Begini posisi yang kamu mau?”tanyanya sambil duduk dan membuka phanya lebar-lebar. “Yak sip.” Sahutku. “Aku lanjut ya colnya.”
Sambil memandangi tbuh Ririn, aku terus mengock tngkolku, tapi kulakukan dengan perlahan, karena aku nggak mau cepet-cepet ejak*lasi. Sayang, kalau pemandangan langka ini berlalau terlalu cepat. Aku pun menceracau, tapi Ririn tidak menanggapi omonganku.
“Oh…Liiiinnn….kamu kok mulus banget siiiihhh….”aku terus menceracau. Ririn menatapku dan tersenyum.
“Susmu montok bangeeeettttt… phamu sekel dan putiiiihhhh….hhhhh….bikin aku ngac*ng, Liiiiiinnn……”
Ririn terus saja menatapku dan kini bergantian, menatap wajahku dan sesekali melirik ke arah tngkolku yang terus saja ngacai alias mengeluarkan lendr dari ujung lobangnya.
“Panttmu, Liiiinnn….seandainya kau boleh megang….uuuuhhhhh….apalagi kena tngkolku….oouuufff…..pasti muncrat aku….,”aku merntih dan menceracau memuji keindahan tubuhnya. Sekaligus aku berharap, kata-kataku dapat membuatnya terngs*ng.
Ririn masih tetap diam, dan tersenyum Matanya mulai sayu, dan dapat kulihat kalo nafasnya seperti orang yang sesak nafas. Kulirik ke arah cel*na dalamnya…oppsss….aku menangkap sinyal kalo ternyata Ririn juga mulai ternagsang dengan aktivitasku.
Karena celna dalamnya berbahan satin dan tipis, jelas sekali terlihat ada noda cairan di sekitar selangkannya. Duduknya pun mulai gelisah. Tangannya mulai merba ddanya, dan tangan yang satunya turun merba pha dan selngk*ngannya. Tapi Ririn nampak ragu untuk melakukannya. Mungkin karena ia belum pernah melakukan ini dihadapan orang lain.
Kupejamkan mataku, agar Ririn tau bahwa aku tidak memperhatikan aktivitasku. Dan benar saja…setelah beberapa saat, aku membuka sedikit mataku, kulihat tangan kiri Ririn mermas paydaranya dan owww…** sebelah kiri ternyata sudah diturunkan. Tamu Cantik di
Astagaaa..!!! pg itu merah sekali…tegak mengcung. Meski sudah melahirkan, dan memiliki satu anak, kuakui, p**a Ririn lebih bagus dan kencang dibandingkan Kiki. Kulihat tangan kiri Ririn memilin-milin putngnya, dan tangan kanannya ternyata telah menyusup ke dalam cel*na dalamnya.
“Sssshh….oofff….hhhhhh…..:” Kudengar suara nya mendesis seolah menahan kenikmatan. Aku kembali memejamkan mataku dan meneruskan kockan pada tngkolku sambil menikmati rintihan-rintihan Ririn.
Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang hangat…basah…lembut…menerpa t*ngkol dan tanganku.
Aku membuka mata dan terpekik. “Lin…kamu…,”leherku tercekat.
“Aku nggak tega liat kamu menderita, Ndrew,”sahut Ririn sambil membelai tngkolku dengan tangannya yang lembut. My gosh…perlahan impin dan obssiku menjadi kenyataan. tngkolku dibelai dan dikcok dengan tangan Ririn yang putih mulus.
Aku mendesis dan membelai rambut Ririn. Kemudian secara spontan Ririn menjlat tngkolku yang sudah bener-bener sewarna kepiting rebus dan sekeras kayu. Dan…hap…! Sebuah kejadian tak terduga tetapi sangat kunantikan…akhirnya tngkolku masuk ke mulutnya. Ya, tngkolku dihsap Ririn. Sedikit lagi pasti aku memperoleh lebih dari sekedar cunilngis.
Tak tahan dengan perlakuan sepihak Ririn, kutarik pinggulnya dan buru-buru kulepaskan nya. “Kamu mau ngapain, Ndrew?” Ririn protes sambil menghentikan hispannya. Aku tidak menjawab, jariku sibuk mengusap dan meremas p*t putih nan montok, yang selama ini hanya menjadi khayalanku.
“Ohh..Lin…boleh ya aku megang p****t sama memiaw kamu?”pintaku.
“Terserah…yang penting kamu puas.”
Segera kurmas-rmas p*t Ririn yang montok. Ah, obssiku tercapai…dulu aku hanya bisa berkhayal, sekarang, tubuh Ririn terpampang dihadapanku. Puas dengan panttnya, kuarahkan jariku turun ke as dan vginanya. Ririn merintih menahan rasa nikmat akibat usapan jariku.
“Achh…Liiiinn…enak bangeeeeett….sssshhh…….”aku menceracau menikmati jiltan lidah dan hangatnya mulut Ririn saat mengnyot tngkolku. Betul-betul menggarahkan melihat bibir dan lidahnya yang merah menyapu lembut kepala dan batng kelelkianku. Hingga akhirnya….
“Rin….bibir kamu lembut banget sayaaaannggg.
“Keluarin sayang…t*ngkol kamu udah berdenyut tuh….udah mau muncrat yaaa….”
“I…iiy…iiyyaaa….Rin….Ouuuuufuffffff….. argggghhhhhhhhhh…..”
Tak dapat kutahan lagi. Bobol sudah pertahananku. Crottt…..crooottt….crooootttt…
Sprmaku muncrat sejadi-jadinya di muka, bibir dan da Ririn. Tangan halus Ririn tak berhenti mengock batng kejntananku, seolah ingin melahap habis cairan yang kumuntahkan
Ohhhh…….my dream come true….. Obssiku tercapai…pagi ini aku muncratin pejhku di bibir dan muka Ririn.
“Lin…kamu gak geli sayang…? Bibir, muka sama d*a kamu kena sprmaku?”
Ririn menggeleng dengan pandangan sayu. Tangannya masih tetap memainkan t*ngkolku yang sedikit melemas.
“Kamu baru pertam kali kan, mainin koto orang selain suami kamu?”
“Iya, Ndrew. Tapi kok aku suka ya…terus terang, bau s****a kamu seger banget…kamu rajin maka buah sama sayur ya?” tanya Ririn.
“Iya…kalo gak gitu, Indahmana mau nelen sa aku.” “Aihhh….” Ririn terpekik. “Indah mau nelen sa?”
Aku mengangguk. “Keapa Rin? Penasaran sama rasanya? Lha itu sprmaku masih meleleh di muka sama d*a kamu. Coba aja rasanya,”sahutku.
“Mmmm…ccppp…ssllrppp….” terdengar lidah dan bibir Ririn mengecap sprmaku. Dengan jarinya yang lentik, disapunya sprmaku yang tumpah didada dan mukanya, kemudian dijlatnya jarinya smape bersih.Hmmm….akhirnya sprmaku masuk kedalam tubuhnya.
“Iya, Ndrew, sa kamu kok enak ya. Aku gak ngerasa enek pas nelen sa kamu…”
“Mau lagi….?”
“Ih…kamu tuch ya…masih kurang, Ndrew?” Tamu Cantik di

“Lha kan baru orl belum masuk ke meq kamu, Rin.” Sahutku…”Tuh, liat…bangun lagi kan?”
“Dasar kamu ya….”
“Bener kamu gak mau sp*rmaku ? Ya udah kalo gitu, aku mau bersih-bersih dulu.”ancamku sambil bangkit dari kursi.
“Mau sih…Cuma takut kalo Indah dateng…gimana donk….”Ririn merajuk.
Perlahan kuhampiri Ririn, kuminta dia duduk di sofa, sambil kedua kakiya diangkat mengngkang. Kulihat meqnya yang licin karena cairan cintanya meleleh akibat perbuatan jariku.
“Hmmm…Lin…meq* kamu masih basah…kamu masih h**y dong…”tanyaku. “Udah, Ndrew….cepetan deh…nanti istrimu keburu dateng…Lagian aku udah…Auuuwwww….!!!! Ohhh..Shhhhh…….” Ririn memiawik saat lidahku menari diujung klitrisnya.
“Ndrewwww…kamu glaaa yaaa…”bisiknya samil menjambak rambutku. Kumainkan lidahku dikelnttnya yang udah membengkak. Jari ku menguak bibir v**a Ririn yang semakin membengkak. Perlahan kumasukkan telunjukku, mencari G-sptnya. Tamu Cantik di
Akibatnya luar biasa. Ririn makin meronta dan merintih. Jambakannya makin kuat. Cairan brhinya makin membasahi lidah dan mulutku. Tentu saja hal ini tak kusia-siakan. Kusdot kuat agar aku dapat menelan cairan yang meleleh dari vginanya.
Ya…aroma va Ririn lain dengan aroma va istriku. Meskipun keduanya tidak berbau amis, tapi ada snsasi tersendiri saat kuhirup aroma kewantaan Ririn.
“C’mon..Ndrew…I can’t stand…ochhh…ahhhhhh…shhhh……c’mon honey….quick…quick….”
Aku paham, gerakan pantt Ririn makin lar. Makin kencang. Kurasakan pula meqnya mulai berdenyut…..seentar lagi dia meledak, pikirku. dan akhirnya Crottt…..crooottt….crooootttt… AAaaaaahhhhhhh Ririn berteriak dengan keras sampai terkulai lemas di sofa.